Kematian Follower Social Media dan Masalah di Baliknya

Para follower di social media itu telah mati!

Terdengar seperti sebuah tragedi, namun itulah yang dibahas Jack Conte pada konferensi SXSW 2024 dengan judul keynote “Death of the Follower & the Future of Creativity on the Web.”

Siapa Jack Conte? Apa maksudnya kematian follower?

Setelah menonton rekaman keynote tersebut, apa yang dibicarakan oleh Conte ternyata penting untuk dipahami oleh semua konten kreator.

Penting karena mempengaruhi tingkat pendapatan yang bisa didapat oleh konten kreator.

Tapi sebelum lanjut, perlu saya klarifikasi: follower tidak benar-benar mati. Yang mati adalah asumsi bahwa follower sama dengan jangkauan dan penghasilan.

Artikel ini bukan ajakan untuk berhenti bertumbuh atau mengabaikan follower. Fokusnya satu: menghentikan ketergantungan pada angka yang tidak dirancang untuk menghasilkan uang tanpa sistem di belakangnya.

Akhir Dari Era Keemasan Follower Social Media

Kematian follower adalah kondisi ketika jumlah follower tidak lagi menjamin:

  • konten akan dilihat,
  • relasi akan terjaga,
  • atau penghasilan akan terbentuk.

Dulu, follower adalah distribusi. Sekarang, follower hanya potensi yang bisa mati jika tidak diarahkan.

Jack Conte at SXSW 2024
Jack Conte di SXSW 2024

Jack Conte, CEO dan co-founder Patreon, mengalaminya sendiri saat masih menjadi kreator musik. Meski punya audiens besar, kontennya tetap tidak sampai ke banyak follower—karena algoritma memutus jalur langsung antara kreator dan audiens.

Algoritma kini menentukan:

  • konten mana yang “layak” ditampilkan,
  • siapa yang boleh melihat,
  • dan sejauh apa jangkauan menyebar.

Jumlah follower tidak mengubah fakta ini.

Kenapa Follower Tidak Lagi Bisa Diandalkan

Masalah utamanya bukan algoritma semata, tapi cara kreator membangun bisnis di atasnya.

Yang terjadi di lapangan:

  • Follower menjadi angka statis di profil, tanpa aliran ke langkah berikutnya.
  • Kreator bersaing bukan hanya dengan niche yang sama, tapi dengan seluruh konten di platform.
  • Pemula dipaksa berlomba dengan akun besar dalam ekosistem yang tidak adil.

Follower tidak salah. Yang bermasalah adalah ekspektasi bahwa follower akan bekerja sendiri.

Tanpa sistem monetisasi yang jelas, follower hanyalah vanity metrics. Ini sebabnya banyak kreator terlihat besar tapi secara finansial stagnan.

Kalau Begitu, Apakah Social Media Sudah Tidak Penting?

Tidak.

Social media belum mati dan masih sangat relevan untuk:

  • distribusi konten,
  • menjangkau audiens baru,
  • membangun awareness.

Yang mati adalah menjadikan social media sebagai satu-satunya fondasi bisnis.

Jack Conte menyebutkan bahwa masa depan kreator ada pada model direct-to-fan, bukan semata periklanan berbasis algoritma.

Artinya: konten tetap penting, tapi hubungan langsung dengan audiens jauh lebih krusial.

True Fans dan Direct-to-Fan Model

True fans bukan sekadar follower, melainkan orang yang:

  • peduli dengan value yang kamu berikan,
  • mau meluangkan waktu,
  • dan bersedia membayar jika relevan.

Follower adalah pintu masuk. True fans adalah fondasi.

Hierarkinya seperti ini:

Creator funnel
via Jack Conte SXSW 2024

Masalah kebanyakan kreator bukan di bagian atas funnel, tapi tidak pernah membangun bagian bawahnya.

Baca juga: Pahami Creator Funnel Jika Ingin Meningkatkan Income

Platform Kedua: Bukan Opsional, Tapi Wajib

Jika hubungan dengan audiens sepenuhnya dikendalikan algoritma, maka bisnis konten rapuh sejak awal.

Karena itu, kreator perlu minimal satu platform kedua yang tidak terganggu algoritma.

Pilihan paling umum:

  1. Komunitas. Telegram, Discord, atau WhatsApp untuk relasi yang lebih dekat. Bisa digabung dengan sistem berbayar menggunakan platform seperti Mayar atau Tribelio.
  2. Email Newsletter. Kanal paling stabil untuk komunikasi langsung. Data audiens benar-benar milik kreator.
  3. Website. Basis jangka panjang untuk SEO, distribusi, email capture, dan penjualan produk digital.

Tidak harus semuanya sekaligus. Satu dulu saja sudah jauh lebih sehat dibanding hanya bergantung pada social media.

Follower Tanpa Sistem adalah Aset Mati

Ini poin kuncinya.

Follower tetap penting. Growth tetap relevan. Tapi tanpa sistem yang mengalirkan orang dari konten ke relasi, lalu ke nilai ekonomi, semua itu hanya melelahkan.

Banyak kreator tidak miskin karena kurang follower, tapi karena:

  • tidak memahami level monetisasi,
  • lompat langsung ke jualan,
  • atau tidak membangun trust secara bertahap.

Sangat penting bagi kreator untuk memahami struktur level monetisasi yang meningkatkan income.

Kesimpulan

“Kematian follower” bukan ajakan untuk menyerah pada growth, tapi peringatan agar berhenti mengandalkan angka sebagai fondasi hidup.

Follower bukan tujuan akhir.

Yang menentukan hasil adalah:

  • sistem,
  • jalur relasi,
  • dan cara kamu membangun bisnis konten di atasnya.

Social media akan selalu berubah mengikuti kepentingan bisnis platform. Karena itu, kreator perlu fondasi yang bisa berdiri tanpa algoritma.

Jika kamu ingin membangun penghasilan digital yang realistis, mulailah dari pertanyaan yang lebih jujur:

  • siapa audiens yang benar-benar kamu bantu,
  • masalah apa yang mereka anggap penting,
  • dan sistem apa yang membuat hubungan itu berkelanjutan.

Untuk memahami progres realistis dari nol hingga income yang lebih stabil, pahami juga fase bisnis yang harus dilalui oleh seorang kreator.

Untuk langkah berikutnya:

1. Sistem Satu Orang: Blueprint realistis untuk membangun bisnis digital tanpa modal besar, dirancang untuk orang yang bekerja sendiri—dari rumah, dengan waktu dan energi terbatas → Cocok kalau kamu ingin sistem jangka panjang, bukan tips acak.

2. Newsletter Mingguan: Gabung dengan 4500+ pelanggan untuk belajar tentang membangun income digital sambil tetap punya hidup. Dikirim setiap Sabtu pagi, tanpa spam, tanpa hype.

3. Video di YouTube (Last Minute Creator): Pembahasan yang lebih konkret dan visual: sistem, tools, dan real case → Cocok kalau kamu lebih suka belajar lewat video..

Bagikan Kepada Teman:
Scroll to Top