Kenapa Kamu Tidak Perlu Menetapkan Niche di Awal

“Mau membuat konten tentang apa?”

Pertanyaan sederhana yang sering kali sulit untuk dijawab.

Bukan karena kamu tidak punya kemampuan. Tapi karena internet—terutama social media—terlalu menyederhanakan konsep niche.

Kamu mungkin pernah mendengar nasihat seperti ini:

  • “Pilih niche dulu baru bikin konten”
  • “Niche harus spesifik supaya cepat berkembang”
  • “Kalau niche-nya terlalu luas, kamu nggak akan ke mana-mana”

Kedengarannya masuk akal. Tapi bagi kebanyakan orang yang baru memulai, nasihat ini justru jadi beban mental.

Takut salah pilih, takut terlalu sempit, atau takut tidak menguntungkan.

Dan yang paling bermasalah: memilih niche sebelum memahami siapa yang akan kamu layani dan masalah apa yang benar-benar kamu pahami.

Artikel ini tidak akan memberikan niche siap pakai. Tidak akan menjanjikan formula cepat berkembang.

Yang akan kamu dapatkan adalah urutan berpikir yang lebih aman dan lebih realistis sebelum niche memang perlu dikunci.

Karena di fase awal, yang kamu butuhkan bukan niche, melainkan kejelasan audiens dan premis konten.

Kenapa Banyak Orang Salah Memahami Niche

Masalahnya dimulai dari definisi yang keliru.

Banyak orang menganggap:

Niche = topik.

Padahal niche adalah fokus masalah + audiens + konteks solusi.

Contohnya:

Niche bukan sekadar topik

  • “Konten tentang AI” → topik
  • “Membantu pekerja kantoran pakai AI untuk hemat waktu kerja” → niche

Niche bukan hobi

  • “Saya suka fotografi” → hobi
  • “Mengajarkan pemula fotografi produk untuk jualan online” → niche

Secara sederhana, niche adalah kombinasi dari:

  • siapa yang kamu layani,
  • masalah nyata yang mereka hadapi,
  • dan solusi yang kamu tawarkan.

Ketika pemula diminta “pilih niche”, yang mereka pilih biasanya cuma topik. Tanpa audiens jelas, tanpa masalah konkret, dan tanpa konteks jangka panjang.

Akibatnya:

  • kehabisan ide setelah belasan konten,
  • konten terasa dipaksakan,
  • audiens tidak tumbuh,
  • monetisasi sulit karena tidak ada kebutuhan nyata.

Ini bukan soal bakat. Tapi urutan berpikir yang keliru sejak awal.

Masalah Terbesar: Memilih Niche Sebelum Punya Data

Memilih niche terlalu cepat sama seperti mengunci diri di ruang sempit sebelum tahu apakah kamu bisa bertahan di dalamnya.

Di awal, kamu:

  • belum tahu siapa audiensmu,
  • belum tahu format konten yang cocok,
  • belum tahu topik mana yang benar-benar bisa kamu jelaskan secara konsisten.

Akhirnya, yang sering terjadi hanya dua:

  1. memaksakan diri sampai burnout, atau
  2. ganti niche dan mulai dari nol lagi.

Banyak kreator gagal bukan karena kurang kemampuan, tapi karena terlalu cepat mengunci pilihan yang belum teruji.

Ini salah satu alasan kenapa banyak konten kreator gagal berkembang.

Langkah 1: Mulai dari Audiens yang “Mirip Kamu”

Kalau bukan niche, mulai dari mana?

Mulai dari orang-orang yang pernah atau sedang mengalami masalah yang kamu pahami.

Kenapa ini penting?

  • Kamu tidak perlu menebak masalahnya.
  • Konten terasa lebih natural.
  • Empati yang muncul lebih otentik.

Contoh:

  • Pernah struggle dengan gaji pas-pasan → konten keuangan dasar
  • Pernah belajar skill kerja dari nol → konten pembelajaran pemula
  • Pernah gagal di side hustle → konten pelajaran dari kegagalan

Audiens awal tidak harus besar. Tapi harus relevan secara pengalaman.

Ini langkah penting dalam menentukan target audiens yang tepat.

Langkah 2: Cari Titik Temu antara Kemampuan dan Ketertarikan

Setelah audiensnya jelas, cari apa yang bisa kamu tawarkan secara konsisten.

Bukan soal jadi ahli, tapi soal keberlanjutan.

Petakan tiga hal:

  1. Kemampuan yang sudah kamu miliki. Skill sederhana pun valid jika benar-benar kamu pahami.
  2. Ketertarikan yang masuk akal untuk digali. Sesuatu yang cukup membuat kamu bertahan saat hasil belum terlihat.
  3. Titik temu yang natural. Tidak dipaksakan dan relevan untuk audiensmu.

Contoh nyata:

Miss Excel adalah mantan pegawai kantoran yang jago Excel dan suka dance. Alih-alih bikin konten Excel yang kaku, dia mengajar Excel sambil nge-dance di TikTok.

Kenapa ini berhasil?

  • Kemampuan: Excel (skill yang dia kuasai dari pekerjaan)
  • Ketertarikan: Dance (hal yang dia suka dan bisa dia lakukan dengan enjoy)
  • Titik temu: Mengajar Excel dengan cara yang berbeda dan fun

Dan yang paling penting: dia tahu siapa audiensnya—pekerja kantoran yang bosan dengan tutorial Excel yang membosankan.

Tips menemukan titik temu:

  • Combine: Skill video editing + suka film → konten breakdown editing dari film populer
  • Enhance: Pandai bercerita + paham keuangan → konten finansial lewat storytelling
  • Solve: Pernah struggle cari kerjaan + paham LinkedIn → konten strategi job hunting

Ini cara orang biasa mengubah kemampuan biasa menjadi penghasilan digital.

Langkah 3: Buat Premis yang Jelas (Bukan Niche)

Di titik ini, yang kamu butuhkan adalah premis konten.

Premis adalah penjelasan singkat tentang siapa yang kamu bantu, masalah apa yang kamu selesaikan, dan hasil apa yang mereka dapatkan.

Perbedaannya jelas:

❌ “Konten tentang aplikasi perkantoran”
✅ “Membantu pekerja kantoran pakai aplikasi untuk otomasi tugas berulang agar bisa pulang lebih cepat”

Premis yang jelas membuat orang langsung tahu: “Ini buat saya atau bukan.”

Kreator yang bertumbuh punya clarity sejak awal.

Bagaimana Kalau Saya Bukan Seorang Ahli?

Pertanyaan ini sering muncul. Dan ini salah satu alasan kenapa banyak orang mengurungkan niat untuk menjadi konten kreator.

Tapi ini kebenarannya:

Kamu tidak perlu jadi ahli. Kamu hanya perlu selangkah lebih maju dari audiens kamu.

Pendekatan yang realistis:

  1. dokumentasi pembelajaran,
  2. eksperimen terbuka,
  3. solusi berbasis pengalaman nyata.

Posisikan diri kamu sebagai pemula yang penasaran dan berbagi perjalanan. Daripada memberikan “jawaban final”, kamu bagikan proses pencarian jawaban.

Ini cara orang penasaran bisa menghasilkan uang di internet.

Kapan Niche Perlu Ditetapkan?

Niche tetap dibutuhkan—tapi setelah ada data.

Tandanya:

  • pola audiens mulai terlihat,
  • topik tertentu lebih resonan,
  • monetisasi mulai dipikirkan.

Di sini niche tidak ditebak, tapi disimpulkan. Tapi perhatikan:

  • Kamu tidak menebak niche ini. Kamu menyimpulkan berdasarkan data.
  • Kamu tidak memaksakan diri masuk ke niche yang tidak cocok. Kamu mempersempit ke area yang sudah terbukti natural untuk kamu dan berguna untuk audiens.

Ini adalah evolusi yang logis—bukan lompatan buta. Dan di titik ini kamu harus mulai membangun creator funnel yang menguntungkan.

Hubungkan Ini Semua ke Sistem Penghasilan

Niche adalah alat, bukan tujuan.

Tujuan akhirnya adalah membangun penghasilan digital yang realistis dan berkelanjutan, bukan sekadar punya channel yang terlihat rapi.

Inilah alur yang lebih masuk akal:

  1. Eksplorasi
    • Fokus: Audiens yang mirip dengan kamu + premis yang jelas
    • Tujuan: Validasi apakah ada orang yang butuh konten kamu
    • Ekspektasi: Tumbuh lambat, banyak belajar, banyak evaluasi
  2. Penyempitan (setelah punya data)
    • Fokus: Pola audiens + topik yang paling resonan
    • Tujuan: Mulai mempersempit niche berdasarkan feedback nyata
    • Ekspektasi: Konten lebih konsisten, audiens lebih engaged
  3. Monetisasi (setelah ada funnel jelas)

Tanpa urutan ini, kamu akan:

  • Terjebak di niche yang tidak menghasilkan (karena dipilih tanpa data)
  • Kehilangan motivasi (karena audiens tidak berkembang)
  • Bingung monetisasi (karena tidak ada funnel yang jelas)

Jadi jika kamu sekarang masih di fase awal dan belum tahu niche apa yang tepat—itu wajar.

Dan jika kamu serius ingin membangun bisnis 1-orang dari nol, mulailah dengan sistem, bukan dengan tebakan.

Penutup

Jika kamu sudah membaca sampai sini, sekarang saatnya bertindak.

Membangun konten dan penghasilan digital adalah proses bertahap. Bukan sprint, bukan juga tebak-tebakan.

Kamu tidak perlu punya semua jawaban sekarang. Kamu hanya perlu mulai dengan fondasi yang jelas—audiens yang tepat dan premis yang masuk akal.

Niche akan datang belakangan—saat kamu sudah punya data, konteks, dan pengalaman nyata untuk membuat keputusan yang tepat.

Untuk langkah berikutnya:

1. Sistem Satu Orang: Blueprint realistis untuk membangun bisnis digital tanpa modal besar, dirancang untuk orang yang bekerja sendiri—dari rumah, dengan waktu dan energi terbatas → Cocok kalau kamu ingin sistem jangka panjang, bukan tips acak.

2. Newsletter Mingguan: Gabung dengan 4500+ pelanggan untuk belajar tentang membangun income digital sambil tetap punya hidup. Dikirim setiap Sabtu pagi, tanpa spam, tanpa hype.

3. Video di YouTube (Last Minute Creator): Pembahasan yang lebih konkret dan visual: sistem, tools, dan real case → Cocok kalau kamu lebih suka belajar lewat video..

Bagikan Kepada Teman:
Scroll to Top